“Sementara itu, kehilangan-kehilangan akan terus terjadi. Yang perlu kita lakukan hanyalah mulai membiasakan diri.”
“Fine. You wanna leave, just leave. Go do anything you want…, I’m gonna build my life again from the beginning. I’m really tired of this. So, leave.”
Sejak kalimat yang terakhir itu aku telah terlalu sibuk untuk memikirkan apapun yang terjadi setelahnya. Dengan pekerjaan yang (waktu itu) masih baru, terlalu banyak hal yang harus kuhadapi. Aku berkunjung ke luar kota hampir setiap bulan. Bertemu orang-orang baru, mendatangi tempat-tempat yang baru, yang membuat segala tentangnya tersingkir dan melesak jauh ke sudut pikiran.
Begitu sibuk, atau terlalu ingin sibuk—hingga bahkan hampir tak sempat meng-unpack isi koper sejak perjalanan terakhir sebelum harus packing lagi untuk perjalanan berikutnya.
Aku sangat tidak suka packing.
Apalagi repacking. Karena hampir selalu ada hal yang tertinggal. Kecuali dibuatkan list yang berisi hingga hal-hal terkecil seperti sikat gigi, mouthwash, washlap, hairdryer, celana dalam, earphone, dan seterusnya. Dan aku biasanya akan langsung melempar saja semua barang-barang ini ke dalam koper. Baru akan mengeluarkannya bila dibutuhkan. Kadang-kadang ada benda-benda lama yang akan terus dibawa hingga ke perjalanan baru, perjalanan yang berikutnya. Benda-benda yang sebenarnya hanya akan memperberat dan menjadi beban.
Kadang-kadang akan tertinggal di sana hingga lama—berbulan-bulan lamanya.
Hingga aku sadar, ada sesuatu yang hilang, yang tidak berada di tempat yang seharusnya. Atau koper mulai terasa berat karena ada sesuatu yang selalu terbawa-bawa.
Kemudian baru mulai meng-unpack koper berdebu itu.
Mungkin, seperti itu pula isi pikiran.
***
Seperti itulah menata hidup kembali.
Meng-unpack.
Mengeluarkan segala hal, apa-apa yang selama ini melesak hingga ke sudut-sudut terkecil. Membuat list-nya satu per satu, menimbang-nimbang apakah ia masih dibutuhkan. Atau tidak.
Akan kita temui apa-apa yang selama ini tidak sempat kita tengok, atau apa-apa yang selama ini berusaha kita hindari.
Dan kenangan-kenangan yang berusaha kita lupakan.
Setidaknya seperti itulah—yang persisnya kurasakan ketika ini.
Aku telah mengambil jarak cukup jauh dari waktu itu. Juga dari diriku sendiri, dan dari segala hal yang mungkin membuatku menangis. Aku telah jatuh cinta lagi kini, telah memiliki cukup kekuatan untuk menghadapi hal-hal yang lebih berat lagi.
Rasanya inilah saat yang tepat untuk sebuah unpacking. Maka, kutata hidupku kembali.
Mulai membuat list berisi beberapa rencana jangka pendek. Untuk dua bulan, tiga bulan…, dan satu atau dua rencana jangka panjang. Lalu mendata beberapa hal yang kumiliki yang bisa dipakai untuk meraihnya. Lalu membuat simulasi-simulasi kemungkinan, dan membuang hal-hal yang tidak diperlukan yang mungkin akan menjadi hambatan di tengah jalan.
Aku pun telah membongkar isi lemariku. Dalam arti yang sebenarnya, karena di sana terdapat apa-apa yang kubawa sejak kedatangan pertama ke kota ini yang kukira akan berguna dalam melaksanakan beberapa tujuan.
Dan teringat, bahkan sejak awal tiba, aku tidaklah berencana untuk tinggal terlalu lama. I didn’t even wanna stay here at the first place.
It was him to encourage me to take the promotion. And by that time…, everything he told me, I took it for granted.
Tapi itu salahku juga. Aku yang memilih percaya.
Di sana, ada tas-tas kecil yang tidak pernah sempat ku-unpack sejak kedatangan dulu. My bad—kebiasaan menunda-nunda yang kumiliki sejak lama hingga semua orang tahu. Hehehe.
Tas-tas kecil ini berisi… banyak. Ada tiket kereta untuk berdua, dari stasiun Tawang ke Gambir, yang dia belikan pada kedatangan pertama itu. Jaket abu-abu kecil milik Ero, keponakanku di Semarang. Jaket ini tertinggal di mobilnya waktu itu, di suatu hari ketika kami dan keluarga di Semarang pergi mengunjungi kerabat tante. Ada kain-kain flanel sisa-sisa jahitanku. Semasa tinggal di Jogja dan menjadi guru di sana, aku punya banyak waktu untuk menjahit. Aku membuatkan sebuah laptop case dari kain flanel bertulis namanya untuk dia, hadiah ulang tahun. Kukira, aku masih ingin menjahit hal-hal seperti itu lagi. Tapi—as you’ll see in the city—aku tidak pernah punya waktu.
Ada selembar kertas bertulis Morra Quatro Cantik dalam huruf Arab gundul (tanpa tajwid) dan huruf hidup bersambung yang dia tulis untukku di hari pertama kami bersama. Aku menyimpannya waktu itu karena aku amat suka melihat tulisan tangan, dan ini tulisan tangannya. Ternyata aku masih menyimpannya—actually, masih saja menemukannya—berikut barang-barang lain yang pernah kami pakai bersama.
Di antara itu juga ada surat-surat yang tidak pernah terkirim.
Hal-hal yang seharusnya kusampaikan saat ia pergi melintasi setengah lingkar planet waktu itu.
Yang harusnya kukatakan. Yang seharusnya dia ketahui sebelum membuat keputusan yang lebih besar.
Tapi, aku masih saja menjadi orang yang percaya bahwa setiap jiwa harus diberi keleluasaan menjalani proses mereka masing-masing.
Maka, aku biarkan segala hal berjalan sesuai alam mengaturnya.
Karena perjalanan kita masih panjang.
Oke, pendek. Tapi bukankah urusan panjang atau pendek itu semata-mata adalah tentang berapa banyak hal yang kita perbuat di antaranya? Bila seseorang masih punya waktu tigapuluh tahun lagi untuk hidup namun bisa berbuat banyak, dibandingkan seorang yang lain yang memiliki limapuluh tahun lagi untuk hidup dan tidak berbuat apa-apa—siapakah yang lebih panjang perjalanannya?
Tua-muda itu bukan soal umur (biologis), tapi soal perspektif (terhadap masa depan).
Masa depan yang kita tidak punya sedikit pun clue tentangnya.
Yang, somehow, kita harus bersiap-siap ke sana juga.
Aku tidak tahu sepanjang apa perjalanan yang akan kutempuh kini. Tidak tahu, kelak…, adakah kesempatan yang akan menghantarkanku untuk mengatakan isi surat-surat yang tidak terkirim itu kepada dia. Tidak tahu apakah kelak jalan hidup kami masih akan bersimpangan—dan pada waktu itu bersimpangan dengan cara yang lebih baik—aku tidak tahu.
Tapi selama ini aku selalu menjadi orang yang percaya, perjalanan ini masih panjang.
Seperti yang kutuliskan kepada dia lewat inbox Facebook dahulu.
Karena aku masih ingin berbuat banyak.
Maka, aku kembali mem-packing diri.
Dan hatiku, dan pikiranku. Membawa apa-apa yang perlu kubawa, meninggalkan apa-apa yang seharusnya. Ada beberapa hal yang mungkin terasa berat, tapi kepada Tuhan aku memohon agar aku cukup kuat.
This is hard, I don’t like it. But I am repacking now.***


